≡ Menu

Apa yang menyebabkan pengakuan Trump ke atas Jerusalem? 7 hal yang harus Anda ketahui


Keputusan Presiden Amerika Serikat Donald Trump mengumumkan pengakuan Yerusalem sebagai ibu kota Israel telah memicu kutukan, kecaman, dan penentangan dari berbagai pihak.
Di kalangan pembaca BBC Indonesia, muncul pertanyaan tentang apa yang mendasari keputusan Trump tersebut dan apa dampaknya bagi dunia. Berikut kami menjawab berbagai pertanyaan Anda.

Dalam pidatonya di Gedung Putih, Rabu (06/12), Presiden Trump mengatakan ‘sudah saatnya untuk mengakui secara resmi Yerusalem sebagai ibu kota Israel’.
Menanggapi keputusan ini, kami menerima sejumlah pertanyaan pembaca tentang apa yang akan terjadi selanjutnya. Berikut pertanyaan Anda dan jawaban kami:
Mengapa Presiden Trump mengambil keputusan ini? Apa kepentingan Trump di balik pengakuan tersebut?

Menurut penjelasan Barbara Plett Usher, wartawan BBC di Kementerian Luar Negeri AS, bahwa tidak ada strategi khusus di balik keputusan ini.
“Fakta bahwa Palestina, dan seperti dilaporkan, para pemimpin dunia Arab, dikejutkan oleh keputusan ini merupakan satu tanda bahwa ini bukan merupakan bagian dari strategi Timur Tengah yang lebih luas,” menurut Usher.

Lebih lanjut dia menyatakan, ada spekulasi bahwa Trump berupaya untuk mengubah beberapa hal sebagai taktik persiapan di lapangan untuk perundingan damai, namun ada lebih banyak bukti yang menunjukkan bahwa Trump hanya berfokus pada pemenuhan janji kampanye terhadap Yahudi Amerika pro-Israel dan kelompok Kristen Evangelis yang merupakan basis massa politisnya.

Menurut berbagai laporan, Trump merasa frustrasi dengan penentangan yang terus-menerus dari tim keamanan nasionalnya, yang berkumpul Senin (04/12) untuk membahas opsi pengabaian kedutaan besar.
Yerusalem: Tiga hal yang perlu Anda ketahui tentang kota suci
Yerusalem ‘ibu kota Israel’: Presiden Jokowi dan para pemimpin dunia kutuk keputusan Trump

Kambing Aqiqah Murah Indonesia

Memahami peta konflik Israel-Palestina
Isu ini muncul setiap enam bulan saat AS diwajibkan oleh aturan untuk memindahkan kedutaan besar AS dari Tel Aviv atau mengabaikan tuntutan Kongres atas alasan keamanan.

Pejabat AS mengatakan bahwa mereka setuju untuk menandatangani pengabaian itu dengan janji mengakui Yerusalem sebagai ibu kota Israel dan membuka proses memindahkan kedutaan besar.
“Sementara beberapa presiden sebelumnya menjadikan ini sebagai janji utama kampanye mereka, mereka gagal memenuhinya. Hari ini, saya memenuhi janji itu,” kata Trump dengan penuh kemenangan dalam pidatonya.

Selain itu, wajah Wakil Presiden Mike Pence yang berseri-seri di belakang Trump saat pengumuman sudah menyampaikan semuanya, menurut Usher lagi.
Wakil Presiden Pence disebut sebagai ‘suara berpengaruh’ dalam meyakinkan Trump untuk memenuhi janji kampanyenya itu, dan ini menggambarkan kekuatan politik dari Evangelis Kristen garis keras yang mendukung penuh Israel.
Dan pengaruh Pence ini tak lepas dari pengamatan legislator Palestina dan penganut Kristen, Hanan Ashrawi.
“Tuhan saya tidak memberi tahu apa yang disampaikan oleh Tuhannya,” kata Ashrawi dalam wawancara dengan BBC.
“Kami adalah Kristen yang asli, kami pemilik tanah itu, kami adalah orang-orang yang sudah di sana selama berabad-abad. Berani-beraninya mereka datang ke sini dan memberikan ayat Injil dan posisi absolutis!”
Mungkinkah Trump mengubah keputusan?
Bisa saja, tapi tampaknya sulit.
Keputusan Trump ini memang berbeda dari presiden-presiden AS sebelumnya, mendapat kecaman dunia, dan mengejutkan banyak orang dan sepertinya Trump memang ingin berbeda dari presiden AS lain.
Donald Trump: Yerusalem adalah ibu kota Israel
‘Yerusalem ibu kota Israel’: AS desak Palestina tak batalkan pertemuan Wapres Pence dengan Presiden Abbas
Namun juga keputusan ini diambil untuk memuaskan massa pendukungnya, sehingga sepertinya sulit untuk membayangkan Trump mengubah keputusan.
Apakah pengakuan ini akan membuat marah umat Islam seluruh dunia? Bagaimana peta politik konflik Timur Tengah pascaputusan Trump? Apa implikasi kebijakan sepihak AS di Timur Tengah?
Pengumuman Trump ini merupakan ujian baru bagi Timur Tengah. Setidaknya, ada reaksi kuat dari sekutu AS di dunia Arab, menurut Usher.
Status Yerusalem sebagai tempat yang suci berarti bahwa pemimpin Arab tidak akan terlalu tergerak untuk mengambil pendekatan pragmatis yang akan mereka pakai dalam isu penting lain terkait konflik Israel-Palestin.

Jordan dan Arab Saudi, sebagai penjaga situs suci Islam, telah mengeluarkan peringatan bahwa langkah ini bisa membuat marah dunia Islam.
Namun revolusi Arab kini memindahkan prioritasnya dari isu Palestina ke isu soal Iran, terutama di kalangan negara-negara Teluk.
Karena mereka telah membentuk kerja sama intelijen diam-diam dengan Israel, dan membutuhkan Trump.
Jika pemimpin Arab mengeluarkan banyak pertanyaan soal Yerusalem tapi tak mengambil aksi apa-apa, ini menjadi bukti bahwa ada Timur Tengah yang baru.
Pada akhirnya, pertanyaan besarnya bukan pada apakah ibu kota Israel adalah Yerusalem Barat, tapi apakah Yerusalem Timur yang diduduki Israel akan menjadi ibu kota negara Palestin.

BACA:  "Bayi dan Kanak-Kanak Tidak Sesuai Mengambil Sebarang Suplemen Di Pasaran", Ibu Bapa Perlu Baca

Trump membuka kemungkinan itu dengan mengatakan bahwa pemerintahnya tidak mengambil posisi final mengenai status kota suci, “termasuk soal batasan spesifik akan kedaulatan Israel di Yerusalem, atau resolusi dari perbatasan yang diperdebatkan”.
Ini mengindikasikan bahwa klaim Palestina terhadap Yerusalem Timur akan tetap ada dalam agenda negosiasi.
Meski begitu, Trump tidak memperjelas pernyataan ini, atau bahwa dia menyatakan dengan jelas bahwa tujuannya adalah solusi dua negara.
Yerusalem ‘ibu kota Israel’: Hamas serukan intifada baru, sebut Trump ‘buka gerbang neraka’

AS konsultasi dengan RI soal Yerusalem? Dubes AS: Itu salah terjemahan
Namun dia menyatakan bahwa AS akan mendukung solusi tersebut jika disepakati oleh dua belah pihak: dan ini bukanlah dukungan yang diharapkan oleh Palestina.
Pada akhirnya, Trump tidak menawarkan apa-apa bagi Palestina, dan pidatonya terasa seperti dukungan hanya kepada Israel.

Apa ada sisi positif dari pengakuan Trump atas Yerusalem sebagai ibu kota Israel?
Trump telah mengklaim bahwa pengakuan atas Yerusalem ini akan memajukan proses perdamaian.
Tapi, menurut Usher, tampaknya Trump mensabotase upaya perdamaiannya sendiri. Keputusan ini pastinya akan menguatkan hak Israel dan mereka yang menentang negara Palestina dan konsesi kepemilikan akan Jerusalem

Dan keputusan ini, akan menyulitkan Presiden Palestina Mahmoud Abbas untuk melakukan perundingan.
Pejabat pemerintahan Trump mengindikasikan bahwa mereka akan melanjutkan rencana perundingan damai dan menunggu sampai keadaan tenang. Karena belum siap, maka ada waktu bagi Palestina untuk menolak proses tersebut dan mempertimbangkan ulang.
Namun Trump, menurut Usher, telah menjerumuskan AS ke konflik soal Yerusalem. Dan ini adalah posisi yang tidak nyaman dan tidak ideal bagi mediator.

Dan keputusan ini, akan menyulitkan Presiden Palestina Mahmoud Abbas untuk melakukan perundingan.
Pejabat pemerintahan Trump mengindikasikan bahwa mereka akan melanjutkan rencana perundingan damai dan menunggu sampai keadaan tenang. Karena belum siap, maka ada waktu bagi Palestina untuk menolak proses tersebut dan mempertimbangkan ulang.
Namun Trump, menurut Usher, telah menjerumuskan AS ke konflik soal Yerusalem. Dan ini adalah posisi yang tidak nyaman dan tidak ideal bagi mediator.

Melalui perbincangan dengan banyak orang di Ramallah, BBC News memperoleh tanggapan bahwa keputusan Washington telah merusak peluang Palestina meraih kemerdekaan sebagai negara dengan Yerusalem Timur sebagai ibu kota.
“Kami mengecam keputusan Amerika yang mengakhiri mimpi kami, warga Palestina. Keputusan itu menyudahi solusi dua negara,” ujar Abed Jayussi, warga Ramallah lainnya.
Sebenarnya Yerusalem itu wilayah siapa? Bukankah Yerusalem adalah bagian dari Israel? Bukankah ini adalah hak masing-masing negara berdaulat untuk menentukan ibu kota negaranya?

Beberapa pertanyaan lain yang kami terima dan senada dengan status Yerusalem termasuk: apakah wilayah Yerusalem diakui PBB sebagai bagian wilayah administratif Israel atau status sebagai wilayah jajahan?

Israel telah menduduki Yerusalem Timur sejak perang Timur Tengah 1967.
Mereka mencaplok wilayah itu pada tahun 1980 dan menganggapnya sebagai wilayah mereka. Menurut hukum internasional, Jerusalem timur termasuk wilayah pendudukan.

Status Jerusalem merupakan jantung konflik panjang Israel-Palestina, karena Israel mencaplok Yerusalem Timur yang bagi Palestina merupakan ibu kota negara mereka di masa depan, sementara Israel menetapkan bahwa Yerusalem adalah ibu kota abadi yang tak dapat ditawar lagi.

Pemerintah AS sejak tahun 1948 bersikap bahwa status Yerusalem diputuskan oleh negosiasi dan bahwa mereka tidak akan melakukan tindakan yang mungkin dianggap sebagai upaya mengarahkan hasil dari negosiasi tersebut.
Berdasarkan kesepakatan damai Israel-Palestina tahun 1993, status akhir atas Yerusalem akan dibahas dalam tahap perundingan lebih lanjut di kemudian hari.

BACA:  Kalau Anda Amalkan Air Detoks Lemon Ini, Baca! Nak Kurus Bukan Semudah Ini

Namun sejak tahun 1967, Israel sudah membangun belasan kawasan permukiman -untuk menampung 200.000 warga Yahudi- di Yerusalem Timur.
Langkah itu dianggap melanggar hukum internasional walau posisi ini selalu diabaikan oleh Israel.

Dengan mengakui Yerusalem sebagai ibu kota Israel, maka Amerika Serikat akan memperkuat posisi Israel bahwa permukiman di kawasan timur kota itu merupakan komunitas Israel yang sah.
Pusat -bahkan inti- Yerusalem adalan bagian Kota Tua, suatu labirin gang-gang sempit dan arsitektur bersejarah yang menandai empat penjuru kota: kawasan Kristen, Muslim, Yahudi dan Armenia.
Siapa saja negara yang setuju dengan keputusan AS ini dan siapa yang tidak setuju?
Amerika menjadi negara pertama di dunia yang secara resmi mengakui Yerusalem sebagai ibu kota Israel, dan selain sambutan gembira dari PM Israel Benjamin Netanyahu yang mengatakan bahwa pengumuman ini adalah sebuah ‘monumen bersejarah’, tampaknya tak ada lagi yang setuju.
Yang muncul adalah gelombang kecaman dan kritik dari berbagai penjuru dunia.
Presiden Joko Widodo menyebut “pengakuan sepihak itu melanggar berbagai resolusi Dewan Keamanan PBB” dan “bisa mengguncang stabilitas keamanan dunia.”
Ia juga menyerukan PBB dan Organisasi Konferensi Islam (OKI) untuk segera membahas dan menentukan sikap.

Para pemimpin dari dunia Muslim dan masyarakat internasional lain melontarkan kemarahan mereka, dan sebagian memperingatkan bahwa langkah itu menimbulkan potensi kekerasan dan pertumpahan darah.
Paus Fransiskus mengatakan, “Saya tidak dapat membungkam keprihatinan saya yang mendalam atas situasi yang muncul dalam beberapa hari ini. Pada saat yang sama, saya sangat mengharapkan semua orang untuk menghormati status quo kota, sesuai dengan resolusi PBB yang relevan.”

Setiausaha Agung Pertubuhan Bangsa-bangsa Bersatu, Antonio Guterres, berkata ucapan Presiden Trump “akan menjejaskan prospek damai bagi Israel dan Palestin”.
Kesatuan Eropah menyeru agar “kembali proses perdamaian yang bermakna ke arah penyelesaian dua negara” dan berkata “mesti ada cara, melalui perundingan, untuk menyelesaikan status Yerusalem sebagai modal masa depan kedua-dua negara, supaya aspirasi kedua-dua belah pihak dapat dipenuhi”.

Presiden Perancis Emmanuel Macron berkata keputusan Trump untuk mengenali Baitulmuqaddis sebagai ibu kota Israel adalah “sangat disesalkan”.
China dan Rusia juga melahirkan kebimbangan bahawa langkah itu boleh membawa kepada peningkatan ketegangan di rantau ini.
Perdana Menteri Britain Theresa May berkata kerajaan British tidak bersetuju dengan keputusan AS, yang dia panggil ‘tidak membantu dari segi prospek keamanan rantau’.
Melihat dari Jerusalem: bagaimana memilih modal negara?
Penghapusan modal yang dirancang ‘bukan penyelesaian’ jurang pembangunan
Jurucakap kanser Jerman Angela Merkel berkata di Twitter bahawa Berlin “tidak menyokong sikap ini (Trump) kerana status Yerusalem hanya boleh dirundingkan dalam rangka penyelesaian dua negara”.

Adakah majoriti orang Kristian bersetuju dengan pemindahan ibu kota Israel ke Yerusalem?
Terdapat kira-kira dua bilion lebih Kristian di dunia, pastinya sukar untuk menentukan atau menjawab respon majoriti orang Kristian, tetapi ada beberapa pihak yang telah mengeluarkan kenyataan atau mendapat manfaat daripada keputusan Presiden Trump ini.
Seperti yang telah disebutkan, keputusan Trump menggalakkan kepada Evangelikal Kristian di Amerika Syarikat yang menjadi asas penyokong Trump.
Pope Francis menyatakan bahawa dia prihatin terhadap pengiktirafan Trump.

Di Indonesia, Uskup Ignatius Suharyo, Pengerusi Persidangan Uskup Presbyterian Indonesia (KWI), mengatakan bahwa penyingkiran modal itu adalah politik, tidak terkait dengan iman.
“Bagi mana-mana orang, Yerusalem masih menjadi bandar suci kerana sebagai simbol, iman Katolik tidak akan mengubah sesiapa yang mengawal Jerusalem,” kata Suharyo.
Sementara kenyataan rasmi yang dikeluarkan oleh Jemaah Indonesia (PGI) ditandatangani oleh pengerusi, Pdt. Dr. Henriette Tabita Lebang, berkata pengakuan Trump “adalah satu bentuk pengabaian perjalanan panjang gereja-gereja dan komuniti dunia untuk menyelesaikan konflik Palestin dengan penyelesaian dua negara Israel dan Palestin yang damai.”
“Penyelesaian yang lengkap itu memerlukan status Yerusalem untuk diselesaikan dalam dialog yang membina memandangkan aspirasi dan kepentingan kedua-dua pihak,” kata kenyataan itu.

Kambing Aqiqah Murah Indonesia
Loading...

Minat menulis artikel? Inilah peluang untuk anda. Hantar artikel anda di sini: www.islamituindah.info/hantar-artikel